Minggu, 06 September 2026

TADABBUR Ketika Allah “Ada” di Sisi yang Lemah

 


Hadis qudsi ini membuat kita terdiam.


“Wahai anak Adam, Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku?”


Hamba bertanya, bagaimana mungkin menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Rabb semesta alam?


Allah menjawab: “Tidakkah engkau tahu hamba-Ku si Fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya? Seandainya engkau menjenguknya, niscaya engkau mendapati-Ku di sisinya.” (HR. Muslim)


Allah tentu tidak sakit, lapar, atau haus. Hadis ini menunjukkan betapa tinggi perhatian Allah kepada hamba-Nya yang membutuhkan.


Allah seakan menggeser pandangan kita: jangan hanya mencari-Nya di atas sajadah. Lihatlah hamba-Nya yang sedang terbaring, lapar, dan kehausan.


Alam pun mengajarkan: tak ada makhluk yang benar-benar mandiri. Hari ini kita kuat dan memberi. Besok mungkin kita lemah dan meminta.


Karena itu, orang sakit mungkin tidak membutuhkan ceramah. Ia membutuhkan hadirmu. Orang lapar membutuhkan makanan. Orang haus membutuhkan air.


Rasulullah ﷺ telah mencontohkannya: iman tidak hanya membuat kita rajin menghadap Allah, tetapi juga peka terhadap hamba Allah.


Maka jangan selalu melihat orang lemah sebagai beban.


Bisa jadi mereka adalah pintu.


Pintu pahala. Pintu penghapus dosa. Pintu untuk mendekat kepada Allah.


Kita mengira sedang menolong mereka. Bisa jadi justru melalui mereka Allah sedang menolong kita.


Jadi ketika ada yang membutuhkan, jangan bertanya:


“Kenapa harus saya?”


Tanyakan:


“Jangan-jangan Allah sedang mengirimkan jalan pulang untuk saya?”


Kita menyangka sedang memberi.


Padahal kita sedang menerima.


Mat Sahudi | Khalifah Nature Guide (KNG)

0 komentar:

Posting Komentar